Showing posts with label COP19. Show all posts
Showing posts with label COP19. Show all posts

Wednesday, February 5, 2014

在COP19中不知所措的气候输家

去年11月,最新一轮的联合国气候变化谈判在波兰华沙举行——我们也可以按政界人士的称呼,将其称为COP19。然而,来自中欧的消息却让人失望,即使是对最乐观的人而言——再一次,没有明显证据表明温室气体排放有所减少,同时在筹措资金资助较穷的国家处理气候变化相关事宜方面,也未能制定强有力的措施。



一些富裕的国家比其他国家表现得更为糟糕。当二十年前第一次举办谈判时,富裕的国家同意在1990年的国内碳排放水平上减少6-8%。而在波兰举办的谈判上,日本却坚持它现在计划在1990年的排放水平上增加3%。此外,澳大利亚也变成了激进人士的目标,因为澳大利亚政府甚至否认气候发生了变化,也拒绝为对抗气候变化提供任何资金。与此同时,作为东道主的波兰还在COP19的对门安排了一场煤业会议,并声称北极的冰帽融化是一件好事儿,因为这将方便石油钻取。看来没有一个发达国家再严肃对待这件事儿了。

当然了,气候变化会谈给人们带来的失望很多,这些只是其中最新的消息。甚至于早在美国退出1997年京东议定书之后,就已然显现了缓慢向下的发展轨迹,并于2009年哥本哈根会议的争持和沮丧中达到高峰。从那以后,事情就再也没有得到真正的改善,任何一个观察家都可以告诉您,现在的谈判会议几乎就是可耻的展示,“赢家”试图尽可能少地给作为“输家”的国家提供帮助,而后者的人民正忍受着飓风和海平面上升的袭击。

在谈判中发生此事的原因是显而易见的。政府和企业中的很多人在我们的经济体系中变成了“赢家”,他们所依靠的是燃烧化石燃料、耗尽资源,并确保他们分得的蛋糕块儿尽可能大。他们不希望事情发生变化,因为这将意味着把他们的部分财富送给“输家”——那些所拥有的石油被窃取的人,环境受到污染的人,家园被极端天气条件摧毁的人。而“赢家”呢,他们有钱保护自己,避开了这些影响。要解决因气候变化而起的诸多问题,即意味着要处理一个非常大的问题——不平等。我们的经济“赢家”最不愿做的事情就是减少不平等,因为这意味着让更多的人进入他们专属的小小俱乐部——这就是为什么COP19变成了言语的巨人,行动的矮子。

但是,NRGLab采取了与之相反的做法。我们相信可以获得可持续的廉价清洁能源,同时这也应该是各个政府的第一要务——将花费在化石燃料上的资金,用来投资新的基础设施,以此帮助气候“输家”处理之前发生的污染行为造成的影响。



从英文版翻译而来。原文于 1月8日, http://annie65j.blogspot.com/2014/01/climate-losers-pole-axed-at-cop19.html

[ 合国气候变化谈判, COP19, 中欧的消息, 温室气体排放有所减少, 气候变化, NRGLab 项目 ]

Wednesday, January 22, 2014

Pihak yang Menderita Akibat Perubahan Iklim Kembali Terpukul di Konferensi COP19

Kita telah menyaksikan putaran terakhir negosiasi perubahan iklim yang diadakan di Warsawa, Polandia bulan November silam – atau yang orang kenal sebagai COP 19. Kabar yang beredar di Eropa Tengah adalah melemahnya semangat semua orang, bahkan seorang yang paling optimis sekalipun – karena, sekali lagi, belum ada kesepakatan yang tegas untuk memangkas emisi gas rumah kaca, dan tidak ada tindakan yang meyakinkan untuk menyediakan pendanaan dan bantuan keuangan guna membantu negara-negara miskin  mengatasi perubahan iklim.



Beberapa negara kaya justru bersikap lebih buruk. Ketika perundingan pertama dilakukan mulai dari dua puluh tahun lalu, negara-negara kaya sepakat untuk memangkas emisi karbon mereka antara 6-8% dari level 1990. Dalam negosiasi di Polandia itu, Jepang bersikukuh mengatakan bahwa mereka sedang merencanakan untuk meningkatkan emisi karbon 3% dari level 1990. Australia juga menjadi sasaran para aktivis karena pemerintah Australia menyangkal bahwa perubahan iklim memang sungguh-sungguh terjadi dan menolak untuk menyediakan anggaran guna membantu mengatasi masalah ini. Sedangkan Polandia juga menjadi tuan rumah bagi konferensi industri batu bara yang dijadwalkan bersebelahan dengan Konferensi COP19, dan menyatakan bahwa mencairnya es di Samudera Arktik justru patut disyukuri karena ini memudahkan upaya pengeboran minyak. Sepertinya tak ada satu negara maju pun yang menganggap masalah perubahan iklim sebagai sebuah persoalan serius.

Sudah tentu ini menambah daftar panjang kekecewaan terhadap perundingan perubahan iklim. Sejak Amerika serikat menarik diri dari Protokol Kyoto 1997, semua terlihat melambat dan puncaknya adalah berbagai argumen dan kecemasan yang diutarakan pada Konferensi di Kopenhagen tahun 2009 silam.  Tidak ada perbaikan yang dilakukan sejak saat itu, dan para pengamat pun dapat mengatakan bahwa pertemuan yang sekarang adalah pertunjukkan yang agak memalukan karena negara-negara ‘pemenang’ mencoba dan memberi hadiah sesedikit mungkin kepada negara-negara yang ‘kalah’, yang rakyatnya sedang menderita akibat serangan angin topan dan naiknya permukaan air laut.

Jelas terlihat hal ini terjadi pada negosiasi-negosiasi tersebut. Banyak orang, baik di pemerintahan dan perusahaan-perusahaan yang menjadi “pemenang” dalam sistem ekonomi kita saat ini melalui pembakaran bahan bakar fosil, memboroskan sumber daya alam, dan memastikan bawa mereka dapat langsung menerima potongan kue keuntungan sebesar mungkin dalam waktu singkat. Mereka tidak menginginkan perubahan karena perubahan berarti memberikan sebagian kekayaan mereka kepada pihak yang “kalah” – orang-orang yang justru tanahnya telah mereka curi, lingkungannya telah mereka racuni, dan rumah-rumah mereka hancur oleh kondisi cuaca yang ekstrim.  Para “pemenang” tidak terkena dampak tersebut, dan mereka mempunyai uang untuk melindungi diri mereka. Memecahkan banyak masalah yang berkaitan dengan perubahan iklim berarti berurusan dengan masalah yang paling besar, yaitu ketimpangan. Hal terakhir yang ingin dilakukan oleh para “pemenang” ekonomi  adalah mengurangi ketimpangan tersebut, karena itu sama artinya dengan membiarkan lebih banyak orang masuk ke dalam klub eksklusif mereka, dan itu pulalah yang menyebabkan kita melihat begitu banyak “janji-janji surga”, tapi sangat sedikit yang mau bertindak di COP19.

Pendekatan yang dilakukan oleh NRGLab berbeda. Kami percaya bahwa energi bersih, terbarukan, dan murah itu memungkinkan, dan seharusnya menjadi prioritas para pemerintah di seluruh dunia; alih-alih mengabiskan uang dengan membakar energi fosil, kita dapat mengubahnya menjadi sebuah infrastruktur baru untuk membantu pihak-pihak yang “kalah” dalam perubahan iklim berurusan dengan berbagai dampak dari tindakan kita dahulu yang menghasilkan polusi.


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 8 Januuari: http://annie65j.blogspot.ru/2014/01/climate-losers-pole-axed-at-cop19.html

 [ COP19, nrglab, negosiasi perubahan iklim, membantu negara-negara miskin, mengatasi perubahan iklim, pengeboran minyak ]


Wednesday, January 8, 2014

Climate Losers Pole-Axed at COP19

Last November saw the latest round of the United Nations climate change negotiations held in Warsaw, Poland – or as the policy people call it, COP19. The news coming out of central Europe is dispiriting to even the most optimistic person – once again there has been no strong agreement on cutting greenhouse gas emissions, and no strong action on providing finance and funding to help poorer countries deal with climate change.


Some of the rich countries were worse than others. When the negotiations first began twenty years ago, the rich countries agreed to cut their emissions by around 6-8% from 1990 levels. At the negotiations in Poland, Japan insisted that it now plans to actually increase its emissions by 3% from 1990 levels. Australia was also targeted by activists because its government denies climate change is even happening, and refuses to provide any money to help combat it. Meanwhile, the Polish hosts scheduled a coal industry conference next door to COP19, and claimed that melting Arctic ice is a good thing because it will become easier to drill for oil. It seems that none of the developed countries are taking this very seriously anymore.

Of course, this is just the latest in a long list of disappointments to come from the climate change talks. There has been a slow downwards trajectory ever since the US pulled out of the 1997 Kyoto Protocol, culminating in the arguments and dismay of the Copenhagen conference in 2009. Things have never really improved since then, and any observer can tell you that the meetings are now little more than shameful displays as the 'winners' try and give away as little as possible to the 'loser' countries whose people are being attacked by hurricanes and sea level rises.

It's clear why this has happened to the negotiations. A lot of people in governments and corporations have become 'winners' in our economic system through burning fossil fuels, using up resources, and making sure they get as big a slice of the pie as possible. They don't want things to change, because it would mean giving some of their wealth away to the 'losers' – the people who have had their oil stolen, their environment poisoned, and their homes destroyed by extreme weather conditions. The 'winners' are isolated from these impacts, as they have the money to protect themselves. Solving the many problems that climate change poses is going to mean dealing with one very big issue – inequality. The last thing our economic 'winners' want to do is to reduce inequality, because that means letting more people into their exclusive little club – and that's why we saw a lot of talk and very little action at COP19.


NRGLab takes the opposite approach. We believe that clean, sustainable, and cheap energy is possible, and should be a priority of governments around the world – so that instead of spending money on fossil fuels, we can divert it towards new infrastructure to help climate 'losers' deal with the effects of our previous polluting actions.

[ COP19, climate change negotiations, greenhouse gas emissions, Kyoto protocol, nrglab, fossil fuels ]