Follow me by Email

Wednesday, June 18, 2014

Hidup Matinya Bahasa

Bahasa adalah hal terpenting dalam kehidupan manusia - jauh lebih penting dari politik, ras, atau bahkan uang sekalipun.  Mungkin bahasa merupakan bagian yang paling melekat dari budaya manusia, karena bahasa membedakan kita dari hewan, juga membedakan antara kita dan membantu kita membentuk komunitas tertentu di tempat-tempat tertentu.  Mereka yang pernah merasakan berada di negara asing pasti berusaha keras untuk menemukan seseorang di sekitar mereka yang dapat berbahasa Inggris untuk menjelaskan sesuatu. Saat itulah kita akan menyadari betapa 'berbeda' dan merasa 'terasing' ketika kita tidak dapat berbicara kepada orang lain. Bahasa juga merupakan sarana untuk menyampaikan emosi dan perasaan kita, baik positif maupun negatif; demikian juga untuk mengungkapkan keyakinan tertentu dan pengetahuan tentang budaya kita.



Karena itulah, sungguh menyedihkan mendengar adanya bahasa-bahasa yang mati di dunia modern dan global ini.  Saat ini diperkirakan ada sekitar 6.000 hingga 7.000 bahasa yang dituturkan di seluruh dunia, dan hingga 90% dari bahasa-bahasa ini bisa punah pada tahun 2100.  Kebanyakan bahasa-bahasa ini hanya dituturkan oleh kelompok-kelompok yang terdiri dari 10.000 orang atau kurang;  ketika para penutur tua meninggal dan para anggota muda semakin terus-menerus dipaksa untuk memakai salah satu bahasa utama di dunia untuk berkomunikasi dan berpartisipasi dalam ekonomi global, pengetahuan terperinci dari bahasa-bahasa kecil ini pun menghilang.

Mungkin menurut kita hal ini tidak penting - jika hanya 10.000 orang saja yang bertutur dengan sebuah bahasa di planet yang berpenghuni 7 miliar ini, mungkinkah bahasa tersebut tidak terlalu penting? Mungkin lebih baik hanya ada lebih sedikit bahasa, sehingga kita dapat lebih mudah saling memahami.  Coba ingat kembali kisah dari Alkitab tentang Menara Babel - dikisahkan bahwa seluruh umat manusia pada waktu itu bertutur dalam bahasa yang sama, hingga Tuhan khawatir bahwa kita akan mendirikan menara ke surga dan Tuhan memutuskan untuk memberikan setiap orang bahasa yang berbeda agar kita semua bingung dan saling bermusuhan.  Apabila kita melihat pendekatan ini, kita semakin mendekati kembali ke bahasa tunggal yang akan memudahkan kita untuk bekerja sama dan saling memahami sesama kita.

Namun, saya mengambil pendekatan yang berbeda.  Setiap bahasa, sekalipun itu hanya dituturkan oleh segelentir orang saja, mengungkapkan keunikan tersendiri baik secara budaya maupun emosi. Setiap bahasa menunjukkan cara pandang setiap kelompok terhadap dunia dengan cara yang mereka masing-masing - coba pikirkan klaim suku Inuit dari Kanada utara yang terkenal bahwa mereka mempunyai empat puluh kata berbeda untuk salju (bandingkan dengan fakta yang kurang populer bahwa orang Inggris mempunyai banyak kata untuk jenis hujan yang berlainan...). Melestarikan dan memahami bahasa membantu kita membayangkan cara yang berbeda untuk melihat dunia, dan membantu memperluas wawasan kita.

Perubahan kecil dalam bahasa dapat mengungkapkan keragaman budaya manusia yang semakin terkikis di era modern ini.  Coba pikirkan masalah besar yang saat ini diketengahkan antara Rusia dan Ukraina, para penutur bahasa Rusia  berusaha untuk memisahkan diri dari Ukraina setelah bahasa mereka sempat dilarang dalam konteks resmi.   Bagi orang luar, kedua bahasa ini hampir mirip - namun bagi mereka yang campuran antara Rusia dan Ukraina, perbedaan itu terasa sekali dan penting, karena mereka mengatakan sesuatu tentang kelompok dan komunitas asal mereka.

Di dunia saat ini, kita semua menjadi bagian dari tata dunia kapitalis yang mencekik leher, dengan budaya dan pengalaman yang monoton.  Dalam banyak hal, keadaan ini menguntungkan kita dan memungkinkan kita hidup memiliki kehidupan yang lebih nyaman. Namun, akan lebih baik untuk mempertahankan sedikit kehidupan tradisional yang telah kita jalani begitu baik selama ribuan tahun, dan akan sama baiknya untuk membantu komunitas yang lebih kecil, lebih miskin, guna mempertahankan hal yang membuat mereka menonjol dan merasa bangga terhadap identitas mereka sendiri.  Bahasa adalah tradisi dan pembawa identitas, dan seharusnya kita berupaya lebih keras untuk melestarikan cara bertutur, menulis, dan memahami dunia  yang berbeda-beda sebelum terlambat.


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 4.06.2014: http://annie65j.blogspot.com/2014/06/the-life-and-death-of-language.html

Hidup Matinya Bahasa, pengetahuan tentang budaya, bahasa-bahasa yang mati, Menara Babel, dunia yang kapitalis, kehidupan tradisional, komunitas yang lebih kecil

No comments:

Post a Comment