Follow me by Email

Wednesday, January 22, 2014

Pihak yang Menderita Akibat Perubahan Iklim Kembali Terpukul di Konferensi COP19

Kita telah menyaksikan putaran terakhir negosiasi perubahan iklim yang diadakan di Warsawa, Polandia bulan November silam – atau yang orang kenal sebagai COP 19. Kabar yang beredar di Eropa Tengah adalah melemahnya semangat semua orang, bahkan seorang yang paling optimis sekalipun – karena, sekali lagi, belum ada kesepakatan yang tegas untuk memangkas emisi gas rumah kaca, dan tidak ada tindakan yang meyakinkan untuk menyediakan pendanaan dan bantuan keuangan guna membantu negara-negara miskin  mengatasi perubahan iklim.



Beberapa negara kaya justru bersikap lebih buruk. Ketika perundingan pertama dilakukan mulai dari dua puluh tahun lalu, negara-negara kaya sepakat untuk memangkas emisi karbon mereka antara 6-8% dari level 1990. Dalam negosiasi di Polandia itu, Jepang bersikukuh mengatakan bahwa mereka sedang merencanakan untuk meningkatkan emisi karbon 3% dari level 1990. Australia juga menjadi sasaran para aktivis karena pemerintah Australia menyangkal bahwa perubahan iklim memang sungguh-sungguh terjadi dan menolak untuk menyediakan anggaran guna membantu mengatasi masalah ini. Sedangkan Polandia juga menjadi tuan rumah bagi konferensi industri batu bara yang dijadwalkan bersebelahan dengan Konferensi COP19, dan menyatakan bahwa mencairnya es di Samudera Arktik justru patut disyukuri karena ini memudahkan upaya pengeboran minyak. Sepertinya tak ada satu negara maju pun yang menganggap masalah perubahan iklim sebagai sebuah persoalan serius.

Sudah tentu ini menambah daftar panjang kekecewaan terhadap perundingan perubahan iklim. Sejak Amerika serikat menarik diri dari Protokol Kyoto 1997, semua terlihat melambat dan puncaknya adalah berbagai argumen dan kecemasan yang diutarakan pada Konferensi di Kopenhagen tahun 2009 silam.  Tidak ada perbaikan yang dilakukan sejak saat itu, dan para pengamat pun dapat mengatakan bahwa pertemuan yang sekarang adalah pertunjukkan yang agak memalukan karena negara-negara ‘pemenang’ mencoba dan memberi hadiah sesedikit mungkin kepada negara-negara yang ‘kalah’, yang rakyatnya sedang menderita akibat serangan angin topan dan naiknya permukaan air laut.

Jelas terlihat hal ini terjadi pada negosiasi-negosiasi tersebut. Banyak orang, baik di pemerintahan dan perusahaan-perusahaan yang menjadi “pemenang” dalam sistem ekonomi kita saat ini melalui pembakaran bahan bakar fosil, memboroskan sumber daya alam, dan memastikan bawa mereka dapat langsung menerima potongan kue keuntungan sebesar mungkin dalam waktu singkat. Mereka tidak menginginkan perubahan karena perubahan berarti memberikan sebagian kekayaan mereka kepada pihak yang “kalah” – orang-orang yang justru tanahnya telah mereka curi, lingkungannya telah mereka racuni, dan rumah-rumah mereka hancur oleh kondisi cuaca yang ekstrim.  Para “pemenang” tidak terkena dampak tersebut, dan mereka mempunyai uang untuk melindungi diri mereka. Memecahkan banyak masalah yang berkaitan dengan perubahan iklim berarti berurusan dengan masalah yang paling besar, yaitu ketimpangan. Hal terakhir yang ingin dilakukan oleh para “pemenang” ekonomi  adalah mengurangi ketimpangan tersebut, karena itu sama artinya dengan membiarkan lebih banyak orang masuk ke dalam klub eksklusif mereka, dan itu pulalah yang menyebabkan kita melihat begitu banyak “janji-janji surga”, tapi sangat sedikit yang mau bertindak di COP19.

Pendekatan yang dilakukan oleh NRGLab berbeda. Kami percaya bahwa energi bersih, terbarukan, dan murah itu memungkinkan, dan seharusnya menjadi prioritas para pemerintah di seluruh dunia; alih-alih mengabiskan uang dengan membakar energi fosil, kita dapat mengubahnya menjadi sebuah infrastruktur baru untuk membantu pihak-pihak yang “kalah” dalam perubahan iklim berurusan dengan berbagai dampak dari tindakan kita dahulu yang menghasilkan polusi.


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 8 Januuari: http://annie65j.blogspot.ru/2014/01/climate-losers-pole-axed-at-cop19.html

 COP19, nrglab, negosiasi perubahan iklim, membantu negara-negara miskin, mengatasi perubahan iklim, pengeboran minyak ]


No comments:

Post a Comment