Showing posts with label nrglab. Show all posts
Showing posts with label nrglab. Show all posts

Sunday, March 16, 2014

因运动而死——世界杯真正的丑闻

最近除了媒体对索契冬奥会表现出的愤怒之外,另一项国际赛事也占据了争议的头条。在回避该问题数月之后,世界足球管理机构FIFA宣布,2022年将在卡塔尔举办的世界杯有可能将在冬季举行,而不是通常的夏季。这将会是首次在中东举办世界杯,这一赛事在之前也从未被迫处理因那片土地夏日的酷热而带来的问题。全球最好(也是最贵的)球员将不得不应对40摄氏度(104华氏度)的高温,而他们的观点也证实了FIFA在这点上站不住脚,赛事将改期进行。

这招致了传统足球国的批评,特别是欧洲国家的批评,在这些国家,国内赛季通常会在冬季举行。打破“传统”和中断有利可图的欧洲足球联赛,可不是球迷、评论家、俱乐部能接受的事情,或者说……实际上,任何人都不能接受。

如果对卡塔尔建设世界杯体育场的劳动条件,产生相同水平的愤怒,该多好啊。在涉及到奥林匹克时,其他国家的报纸总能找到一些组织缺陷,以此对大型体育赛事的东道主进行抱怨,但是,这些报纸却往往对更大的问题保持着沉默——在为这些赛事修建体育场和基础设施时,对贫穷的外来工的剥削。

从这个意义上来说,卡塔尔应该是最糟糕的罪犯之一了。上周披露的官方记录显示,仅在2013年这一年,在卡塔拉足球体育场的修建过程中,就至少有185名尼泊尔工人丧生。随着更多事件浮出水面,这一数字预计还将增加,而这只是尼泊尔工人的情况。卡塔尔共有200万人,但其中只有250,000人是真正的卡塔尔公民——其他人均是外来工,分布范围则从在银行和学校工作的西方富有侨民,到菲律宾女佣,到修建体育场和道路的尼泊尔、孟加拉国和巴基斯坦劳工。死亡的原因包括交通事故、坠落、重物撞击,还有很多死亡原因被划到了“心脏病”一列——大概是为了掩盖真实原因,或者是单纯地因为在极端炎热的气候中长时期艰苦工作而丧生。

尽管数字非常可怕,这些死亡仍然被视为是次要的。很小一部分较为严肃的报纸对此进行了报导,但通常会在2022年世界杯来临之际被人遗忘。狭隘的民族主义将再次盛行,我们将为自己的球队加油助威(大多数来自欧洲和南美),而忽略来自运动不发达国家、因我们的享乐而丧生而受剥削的穷人。我们将抱怨在冬季举办赛事,而彻底忘记让其得以召开的人付出的艰辛。我们将为那些赚取数百万英镑、欧元和美元的人举杯庆祝,而把那些收入微薄的生命抛诸脑后。

NRG Labs反对剥夺外来工人的人权——生活在这个世界上的穷人和不幸之人,他们和其他人一样,拥有同样多的权利去获得舒适、公平的工资和良好的工作条件。这是在我们自身的工作和对新能源技术的开发过程中不变的追求,也是我们认为每位雇主应马上为之努力的方向。

从英文版翻译而来。

原文于 2月18, http://annie65j.blogspot.com/2014/02/dying-for-sport-real-scandal-of-world.html

[ 2022年界杯, FIFA, 劳动条件, 对卡塔尔建设世界杯体育场, nrglab ]

Wednesday, February 26, 2014

警察的目标真是保护我们吗?

上周,英国终于就Mark Duggan事件进行了判决。在英国以外,可能并没有多少人知道Duggan这个名字,但是,他在无意间引起的事件却臭名昭著。Duggan于2011年8月遭警察枪击致死,警察称Duggan当时持有枪支。伦敦的托特汉姆区因此爆发了抗议活动,并在随后升级,居民认为警察忽视了他们的担忧。很快就涌出了诸多问题,并开始爆发骚乱——人们烧毁了房屋、车辆和公交车,商店也被洗劫一空。暴力活动蔓延至伦敦的其他地区以及英国的其他城市,一共持续了五天,留下了大量被烧毁的建筑,为政客和供职于报纸评论专栏的业余社会学家提供了数月谈资。

现在,审讯结束了,事实和解释也已全部公之于众,同时也做出了裁定。Duggan尽管是个令人讨厌的角色,但实际上,当警察向他开枪时,他手无寸铁。不过,评审团认定警察向他开枪并导致其死亡的行为是“合法的”。尽管担心重复两年半之前发生的骚乱,但在物理意义上,一切都保持着相当的平静。但是,在这种平静的表面之下,英国的紧张局势却在发酵。

许多来自各方的政客都将这场骚乱视为单纯的犯罪活动——一群伺机趁火打劫的人利用了一个年轻人的死,抓住了因此呈现在他们面前的机会,尽可能多地从商店和住宅窃取财物。但是,这种解释所欠缺的,正是上周的审讯结果已证实的,即公众和警察之间的信任正在不断瓦解。托特汉姆区的居民不相信警察会为他们的利益着想,也不相信警官将因其枪击Mark Duggan的行为受到法律的审判,而这正是导致出现最初的抗议活动,并在随后升级的原因。

在过去几年间,与警察关系断裂的人并不只有那些参加骚乱的人。学生因反对削减课程或增加学费而发起的抗议活动也曾遭到镇压,警察经常会采取“圈围”策略——也就是说,学生们被全副盔甲的警察所包围,被迫连续数小时站在街上,只有在其身份得到确认、完成拍照之后才能获准离开。在一次抗议活动中,警察从后面袭击了一名无辜的路人,并导致该名路人丧失性命——同样,该名警官并没有受到任何重大的影响。

一般来说,英国的年轻人和工薪阶层正逐渐意识到警察并不能代表他们。他们察觉到警察代表的是由有权有势的人组成的权力机关,他们的主要目标就是侵扰、逮捕和监禁任何想要以任何方式挑战权势的人。警察的目标和他们所保护的政客及商人的目标一致——让穷人生活在贫困中,拿走他们的自由、金钱和生计,将其交给已经非常富有的阶级。Duggan审讯的结果只不过是强权和保护强权的警察相互勾结的最新印证而已。

但在NRGLab 和 Ana Shell Fund,我们相信社会有其不同的一面。首先,处于贫困境地,并不能让一个人成为暴力镇压的目标,其次是减少专制监管的支出,投入更多资金创造条件,让所有人都能拥有更好的生活——社会支出、财富的再分配,用公众基金为公众谋取利益,包括实惠的可再生能源和住房供给。


从英文版翻译而来。原文于 1月30, http://annie65j.blogspot.com/2014/01/are-police-really-there-to-protect-us.html

[ Mark Duggan, 时持有枪支, 政客都, 犯罪活动, 学生因反, NRGLab, Ana Shell Fund ]

Wednesday, January 22, 2014

Pihak yang Menderita Akibat Perubahan Iklim Kembali Terpukul di Konferensi COP19

Kita telah menyaksikan putaran terakhir negosiasi perubahan iklim yang diadakan di Warsawa, Polandia bulan November silam – atau yang orang kenal sebagai COP 19. Kabar yang beredar di Eropa Tengah adalah melemahnya semangat semua orang, bahkan seorang yang paling optimis sekalipun – karena, sekali lagi, belum ada kesepakatan yang tegas untuk memangkas emisi gas rumah kaca, dan tidak ada tindakan yang meyakinkan untuk menyediakan pendanaan dan bantuan keuangan guna membantu negara-negara miskin  mengatasi perubahan iklim.



Beberapa negara kaya justru bersikap lebih buruk. Ketika perundingan pertama dilakukan mulai dari dua puluh tahun lalu, negara-negara kaya sepakat untuk memangkas emisi karbon mereka antara 6-8% dari level 1990. Dalam negosiasi di Polandia itu, Jepang bersikukuh mengatakan bahwa mereka sedang merencanakan untuk meningkatkan emisi karbon 3% dari level 1990. Australia juga menjadi sasaran para aktivis karena pemerintah Australia menyangkal bahwa perubahan iklim memang sungguh-sungguh terjadi dan menolak untuk menyediakan anggaran guna membantu mengatasi masalah ini. Sedangkan Polandia juga menjadi tuan rumah bagi konferensi industri batu bara yang dijadwalkan bersebelahan dengan Konferensi COP19, dan menyatakan bahwa mencairnya es di Samudera Arktik justru patut disyukuri karena ini memudahkan upaya pengeboran minyak. Sepertinya tak ada satu negara maju pun yang menganggap masalah perubahan iklim sebagai sebuah persoalan serius.

Sudah tentu ini menambah daftar panjang kekecewaan terhadap perundingan perubahan iklim. Sejak Amerika serikat menarik diri dari Protokol Kyoto 1997, semua terlihat melambat dan puncaknya adalah berbagai argumen dan kecemasan yang diutarakan pada Konferensi di Kopenhagen tahun 2009 silam.  Tidak ada perbaikan yang dilakukan sejak saat itu, dan para pengamat pun dapat mengatakan bahwa pertemuan yang sekarang adalah pertunjukkan yang agak memalukan karena negara-negara ‘pemenang’ mencoba dan memberi hadiah sesedikit mungkin kepada negara-negara yang ‘kalah’, yang rakyatnya sedang menderita akibat serangan angin topan dan naiknya permukaan air laut.

Jelas terlihat hal ini terjadi pada negosiasi-negosiasi tersebut. Banyak orang, baik di pemerintahan dan perusahaan-perusahaan yang menjadi “pemenang” dalam sistem ekonomi kita saat ini melalui pembakaran bahan bakar fosil, memboroskan sumber daya alam, dan memastikan bawa mereka dapat langsung menerima potongan kue keuntungan sebesar mungkin dalam waktu singkat. Mereka tidak menginginkan perubahan karena perubahan berarti memberikan sebagian kekayaan mereka kepada pihak yang “kalah” – orang-orang yang justru tanahnya telah mereka curi, lingkungannya telah mereka racuni, dan rumah-rumah mereka hancur oleh kondisi cuaca yang ekstrim.  Para “pemenang” tidak terkena dampak tersebut, dan mereka mempunyai uang untuk melindungi diri mereka. Memecahkan banyak masalah yang berkaitan dengan perubahan iklim berarti berurusan dengan masalah yang paling besar, yaitu ketimpangan. Hal terakhir yang ingin dilakukan oleh para “pemenang” ekonomi  adalah mengurangi ketimpangan tersebut, karena itu sama artinya dengan membiarkan lebih banyak orang masuk ke dalam klub eksklusif mereka, dan itu pulalah yang menyebabkan kita melihat begitu banyak “janji-janji surga”, tapi sangat sedikit yang mau bertindak di COP19.

Pendekatan yang dilakukan oleh NRGLab berbeda. Kami percaya bahwa energi bersih, terbarukan, dan murah itu memungkinkan, dan seharusnya menjadi prioritas para pemerintah di seluruh dunia; alih-alih mengabiskan uang dengan membakar energi fosil, kita dapat mengubahnya menjadi sebuah infrastruktur baru untuk membantu pihak-pihak yang “kalah” dalam perubahan iklim berurusan dengan berbagai dampak dari tindakan kita dahulu yang menghasilkan polusi.


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 8 Januuari: http://annie65j.blogspot.ru/2014/01/climate-losers-pole-axed-at-cop19.html

 [ COP19, nrglab, negosiasi perubahan iklim, membantu negara-negara miskin, mengatasi perubahan iklim, pengeboran minyak ]


Sunday, January 12, 2014

杀害猩猩,加速气候变化——一切只是为了获得棕榈油带来的蝇头小利

巧克力棒、美容霜和加油站有什么共同点呢?让人惊讶的是,这个问题的答案居然是砍伐森林,以及猩猩这一物种的逐渐消失。越多越多的人开始使用一种名叫棕榈油的产品,这种油生长在马来西亚和印度尼西亚炎热而潮湿的热带地区。由于世界各地对棕榈油的需求不断增加,政府和企业都将其视为与现有的雨林和湿地相比,更有利可图、使用土地的方法——因此,人们伐倒了猩猩的自然栖息地,转而种上了一排排受到精心照料的棕榈树。



但是,在这场与棕榈油贸易的对决中,输家并不仅仅是我们的近亲——猩猩。人们对婆罗洲岛和苏门答腊岛上森林的砍伐和对湿地的破坏,导致数吨二氧化碳被释放到大气中,进而加速了气候变化——对这些雨林的破坏应对全球3%的温室气体排放负责。在清除许多森林时,人们都采用了焚烧的办法,由此产生的烟雾影响到了人类的呼吸,影响范围甚至蔓延到了新加坡。而当地原住民使用了数百年的土地,也被夺走用于栽种棕榈树。

在《国家地理》最近的一次采访中,可持续发展顾问Robert Hii同时还指出,棕榈油带来的经济利益只有很少一部分落到了当地人的手中:“我个人曾见过这样的情况,人们向土地所有者许诺了丰厚的收入、道路、医院和学校,作为交换,他们需要让出土地权和地产,”他说道。“不幸的是,我看到更多的却是很少有承诺能够兑现。”整个体制都是为了创造输家——雨林的居民失去了他们的土地,西方的居民因为进食太多饱和棕榈油脂肪而失去健康,同时所有人都失去了赖以生存的健康气候。而这一切都是为了给极少数赢家带来利益。

那么,如果说棕榈油是如此糟糕,它为什么还会出现在我们的巧克力、冰淇淋、美容产品、饼干,甚至是我们的燃料中呢?非常简单,答案就是——利益。棕榈油很便宜,比它的替代物便宜多了,部分原因是因为它生长在雨林地区,而这类地区被视为对全球资本无真正价值的地方。对许多公司来说,转而使用更安全、更清洁、更环保、可持续发展的营养品和燃料甚至都不是一个选择——因为这会降低他们的利润。而改变生产方式,让其帮助人们生活得有尊严,公平、公正地分配财富更是绝“不可能”——因为这将拿走这种经济体制下的赢家,亦即政府和企业的资金。

NRGLab意识到了发生在东南亚雨林中的事会对所有人产生影响,并且另辟蹊径力求解决这些问题。我们希望采用不同的方法,来解决能源及经济问题——让资金能以符合人类及地球最大利益的方式运转,让如今的输家变成赢家,而不是只注重结果,借利益之名鼓励破坏行为。如果您认为您有能力提供一臂之力,帮助我们完成使命,敬请与我们联系。




[ 杀害猩猩, 加速气候变化,了获得棕榈油, 棕榈油的需求不断增加, nrglab, NRGLab 项目, 能源 NRGLab, killing orangutans ]

Wednesday, January 8, 2014

Climate Losers Pole-Axed at COP19

Last November saw the latest round of the United Nations climate change negotiations held in Warsaw, Poland – or as the policy people call it, COP19. The news coming out of central Europe is dispiriting to even the most optimistic person – once again there has been no strong agreement on cutting greenhouse gas emissions, and no strong action on providing finance and funding to help poorer countries deal with climate change.


Some of the rich countries were worse than others. When the negotiations first began twenty years ago, the rich countries agreed to cut their emissions by around 6-8% from 1990 levels. At the negotiations in Poland, Japan insisted that it now plans to actually increase its emissions by 3% from 1990 levels. Australia was also targeted by activists because its government denies climate change is even happening, and refuses to provide any money to help combat it. Meanwhile, the Polish hosts scheduled a coal industry conference next door to COP19, and claimed that melting Arctic ice is a good thing because it will become easier to drill for oil. It seems that none of the developed countries are taking this very seriously anymore.

Of course, this is just the latest in a long list of disappointments to come from the climate change talks. There has been a slow downwards trajectory ever since the US pulled out of the 1997 Kyoto Protocol, culminating in the arguments and dismay of the Copenhagen conference in 2009. Things have never really improved since then, and any observer can tell you that the meetings are now little more than shameful displays as the 'winners' try and give away as little as possible to the 'loser' countries whose people are being attacked by hurricanes and sea level rises.

It's clear why this has happened to the negotiations. A lot of people in governments and corporations have become 'winners' in our economic system through burning fossil fuels, using up resources, and making sure they get as big a slice of the pie as possible. They don't want things to change, because it would mean giving some of their wealth away to the 'losers' – the people who have had their oil stolen, their environment poisoned, and their homes destroyed by extreme weather conditions. The 'winners' are isolated from these impacts, as they have the money to protect themselves. Solving the many problems that climate change poses is going to mean dealing with one very big issue – inequality. The last thing our economic 'winners' want to do is to reduce inequality, because that means letting more people into their exclusive little club – and that's why we saw a lot of talk and very little action at COP19.


NRGLab takes the opposite approach. We believe that clean, sustainable, and cheap energy is possible, and should be a priority of governments around the world – so that instead of spending money on fossil fuels, we can divert it towards new infrastructure to help climate 'losers' deal with the effects of our previous polluting actions.

[ COP19, climate change negotiations, greenhouse gas emissions, Kyoto protocol, nrglab, fossil fuels ]

Sunday, December 22, 2013

节约能源到底意味着什么?

“把灯关上!电可不是从树上长出来的……”类似的话,您听过多少次呢?

可以肯定的是,所有人都知道我们消耗了太多能源——近半个世纪以来,这个现象变得越来越明显。但是,这到底意味着什么呢?是为了对抗更炎热的夏天而启动了太多空调吗?还是路上的车辆太多?或者说是可怜的建筑保温措施?


实际上,事实证明就连科学家也不能百分百地肯定。通过仔细的分析研究,他们正致力于每天对每一个现象进行更深入的研究。麻省理工大学和加工大学伯克利分校的经济学家们最近启动了E2e,这是一项试图解决全球能源消耗及与之相关的所有复杂情况的新项目。

 “之前围绕能源效率开展的几乎所有工作都来自工程研究,致力于找出在理想的条件下可能的结果,” E2e项目的联合负责人Michael Greenstone说道。“我们希望提出一个稍微有些不同的问题——在现实生活中,您可以预期获得的真正回报是什么?”

早在 2009年,致力于解决全球性问题的麦肯锡咨询公司发布了一项令人惊讶的研究,研究结果表明美国等国在未来十年内可以节约6800亿美元左右,只要他们能实施密封建筑管道和升级旧电器等战略措施。

经济学家还在继续分析、辩论相关战略,接受挑战。“针对您可能会在效率改善而引起的反应中看到的行为改变,那些工程研究无法对其作出解释,” E2e项目的经济学家Christopher Knittel说道。“比如,在能以更便宜的方式降低室内温度之后,人们就会开始调整他们的恒温器。”

最近在墨西哥开展的一项研究表明,一项由政府资助、鼓励使用节能冰箱的计划实际上抑制了用电量。但是,一项涉及到空调的类似研究却造成了相反的结果——当人们获得更有效的交流电时,他们使用电力的频率也变得越高,进而拉高了能源消耗水平。

“问题在于政策制定者不会花费大量资金来节约能源或减少温室气体的排放,” Greenstone说道。“因此,我们的动机在于找到能获得最多回报的地方。如果花费100美元可以减少一吨二氧化碳,而50美元就能减少两吨,在这种情况下您自然会选择后者。”



从英文版翻译而来。原文于 11月28日, http://annie65j.blogspot.com/2013/06/what-does-it-really-mean-to-conserve.html

[ 节约能源, 消耗了太多能源, 能源, 能源 NRGLab, NRGLab推出的SH-box, NRGLab 项目, 能源 NRGLab, NRGLab ]

Sunday, December 15, 2013

Killing orangutans and speeding up climate change – all for a little palm oil profit

What do a chocolate bar, a tub of beauty cream, and a gas station have in common? The answer, surprisingly enough, is deforestation and the gradual extinction of orangutan species. All of them increasingly use a product called palm oil, which is grown in the hot and humid tropical regions of Malaysia and Indonesia. Because of its growing use around the world, governments and corporations see it as a much more profitable use of land than the existing rainforests and wetlands – and so the orangutans’ natural habitat is chopped down, replaced by rows and rows of carefully guarded palm trees.

But it’s not just our close relatives the orangutans who lose out from the palm oil trade. Deforestation and wetland destruction on the islands of Borneo and Sumatra releases tonnes of carbon dioxide into the atmosphere, accelerating climate change – the destruction of these rainforests is responsible for 3% of all the greenhouse gas emissions in the entire world. Much of the forest is cleared by burning, which creates a hazy smog that affects human breathing as far away as Singapore. And local indigenous people have the land they’ve used for centuries snatched from them so that it can be converted into palm.
In a recent interview with National Geographic, the sustainable development consultant Robert Hii also noted that few of the economic benefits of palm oil make it into local hands: “I have personally seen situations in which landowners are promised good income, roads, hospitals, and schools in exchange for their land rights and properties,” he said. “Unfortunately, I see more complaints about how few of these promises have materialized”. The whole system is designed to create losers – rainforest people lose their land, people in the west lose their health from eating too much saturated palm oil fat, and we all lose the healthy climate we need to survive. And all for the benefit of just a few winners.
So if palm oil is so bad, why is it in our chocolate, our ice cream, our beauty products, our biscuits, and even our fuel? Quite simply, the answer is – profit. Palm oil is cheap, much cheaper than the alternatives, partly because it’s grown on rainforest land that is seen as having no real value to global capital. Changing to a safer, cleaner, more environmentally friendly and sustainable form of nutrition and fuel is not even an option for many companies – because it would reduce their profits. Changing to production methods that would help people live in dignity and provide fair and equitable distribution of wealth is a definite ‘no’ – because it would take money away from governments and corporations, the winners of this economic system.
NRGLab takes a different approach to these issues, recognizing that what happens in the Southeast Asian rainforests affects us all. We want to take a different approach to energy, but also to economics – making money work in the best interests of people and the planet and turning the current losers into winners, rather than just focusing on the bottom line and encouraging destruction in the name of profit. If you think you have the skills to help us in our mission, get in touch.

Wednesday, December 11, 2013

Apa Arti Sesungguhnya Penghematan Energi?

“Matikan lampunya! Bayar listrik mahal...” adalah kalimat yang cukup sering kita dengar.

Tentu saja, kita tahu betapa borosnya energi yang digunakan di dunia ini – yang menjadi semakin boros pemakaiannya dalam setengah abad terakhir. Tetapi, apakah maksud sesungguhnya? Apakah karena melonjaknya pemakaian AC untuk menghalau gerahnya udara panas? Apakah jumlah mobil yang semakin banyak membanjiri jalanan? Apakah buruknya insulasi bangunan?



Baiklah, ternyata tidak semua ilmuwan yakin akan maksudnya juga. Melalui sebuah studi analitis yang cermat, para ilmuwan terus mempelajarinya setiap hari. Para ekonom dari MIT dan University of California, Barkeley, baru-baru ini meluncurkan E2e, sebuah proyek baru yang akan berusaha untuk menangani masalah penggunaan energi global dan segala bentuk kompleksitasnya.

 “Hampir semua proyek tentang efisiensi energi yang telah dihasilkan adalah buah karya dari kajian teknik, yang fokus pada kejadian yang mungkin terjadi dalam kondisi ideal,” papar Michael Greenstone, Wakil Direktur Proyek E2e. “Kami ingin mengajukan pertanyaan yang sedikit berbeda – hasil nyata apakah yang dapat kita peroleh dalam dunia nyata?”

Kembali pada tahun 2009, McKinsey & Co, sebuah perusahaan konsultan dengan bidang utama pada pemecahan isu-isu global, meluncurkan hasil studi mengejutkan, yang membuktikan bahwa negara-negara seperti Amerika Serikat dapat menghemat sampai US$680 miliar hingga dekade berikutnya apabila menerapkan beberapa strategi seperti penutupan saluran-saluran bangunan dan mengganti peralatan-peralatan lama.

Para ekonom pun terus menganalisis, menantang dan berargumen mengenai strategi. “Kajian-kajian teknik itu tak dapat menghitung perubahan sikap yang akan kita jumpai sebagai respon terhadap perkembangan upaya efisiensi ini,” ungkap Christopher Knittel, seorang ekonom dalam proyek E2e. “Orang dapat menyesuaikan termostat mereka dengan cepat jika hal itu adalah upaya dengan biaya murah untuk mendinginkan rumah.”

Sebuah penelitian terbaru di luar Meksiko memperlihatkan proyek mempromosikan kulkas hemat energi yang didanai pemerintah dapat benar-benar menghemat pemakaian energi. Namun demikian, program serupa dengan menggunakan AC justru menghasilkan efek yang berlawanan – karena dengan AC yang hemat energi, masyarakat justru menjadi lebih sering memakainya, dan tentunya konsumsi energi pun akan membengkak.

 “Masalahnya para pembuat kebijakan itu tak mau mengeluarkan banyak uang demi penghematan energi atau untuk mengurangi gas-gas rumah kaca,” kata Greenstone. “Jadi motivasinya adalah mencari tempat yang dapat menghasilkan keuntungannya terbesar. Kalau Anda bisa mengurangi  karbon dioksida sebesar satu ton, akan akan menghasilkan US$100 atau US$50 untuk dua ton, tentu saja yang dipilih adalah yang terakhir.”


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 28 November: http://annie65j.blogspot.com/2013/06/what-does-it-really-mean-to-conserve.html

[ Sesungguhnya Penghematan Energi, bayar listrik mahal, borosnya energi yang digunakan, energi NRGLab, nrglab, konsumsi energi ]

Wednesday, December 4, 2013

巴基斯坦新当选总理接过了50亿美元的能源债务

现在,巴基斯坦大选终于结束了,当选总理纳瓦兹·谢里夫可以着手处理该国令人沮丧的能源局面了。时间也刚刚好——随着夏天的邻近,巴基斯坦的温度上升到了50摄氏度,或者说120华氏度。请想想那种酷热吧!因此,巴基斯坦人民打开了他们的空调,但这又造成了大规模的停电,同时也让已经令人吃惊的债务进一步加重。



停电这个问题已经在巴基斯坦全境引发了抗议。在部分地区,每天出现电力故障的时间竟长达18小时!去年夏天,高需求时期的电力缺口达到了6,000兆瓦。对新总理来说,这可不是一个简单的问题。

巴基斯坦第二大电力供应商前首席执行官Zafar Iqbal Sobani说道:“谢里夫领导的穆斯林联盟能在大选中获胜,是因为上届政府未能履行其在能源方面的承诺。”

巴基斯坦发电厂的产能接近每天14,500兆瓦,这是能满足该国国内需求的,但前提是,他们要能负担得起因发电而燃烧的外国石油和天然气的费用。

即使该国能变得灯火通明,Hub Power等公司还是面临着回收顾客欠费的困境。巴基斯坦的整个能源部门背负着50亿美元的未偿账务。暂且不提人们非法接进电线进行偷窃的行为,仅是延迟支付外国燃料供应商费用这一点,也让整个系统承受着崩溃的威胁。

拉闸限电让巴基斯坦2100亿美元的经济停滞不前,每个会计年的增长率都会被削减两个百分点。其中,纺织业受到的打击最为严重,要知道,纺织业在该国的整体出口量中可是占到了54%,同时还雇佣着38%的“蓝领”劳动力。有人引用了纳瓦兹·谢里夫对其党内支持者所说的话,总理表示能源危机“已经让百姓苦不堪言”。

想想看,如果巴基斯坦的纺织工厂能在无需第三方能源供应商的支持下,就获得低成本的清洁电力,那该多好啊。实际上,NRGLab已经考虑到了这个问题,并因此而研发出了SH-Box(多晶体发动机)。

敬请访问www.nrglab.asia,了解更多详情。


从英文版翻译而来。原文于 6月17日,http://annie65j.blogspot.ru/2013/06/pakistans-newly-elected-prime-minister.html

[ 巴基斯坦新当选总理, 能源债务, Zafar Iqbal Sobani, Hub Power, NRGLab推出的SH-box, NRGLab 项目, 能源 NRGLab, nrglab, sh-box ]