Follow me by Email

Wednesday, March 5, 2014

Mati demi Olah Raga – Skandal Piala Dunia Sesungguhnya

Selain media melontarkan kemarahannya terhadap Olimpiade Musim Dingin di Sochi, kini giliran kegiatan olahraga internasional lain yang menjadi berita utama kontroversial. Setelah menghindari perbincangan  tentang hal ini selama berbulan-bulan, FIFA, badan olahraga sepak bola dunia, telah mengumumkan bahwa piala dunia 2022 di Qatar kemungkinan akan diadakan saat musim dingin dan bukan di musim panas. Kali ini adalah pertama kalinya piala dunia akan diadakan di Timur Tengah. Sebelumnya piala dunia tidak pernah digelar pada suhu musim panas dengan temperature yang luar biasa tinggi seperti yang terjadi di Timur Tengah.  Karena ketakutan jika para pemain terbaik (dan termahal) dunia harus bermain pada suhu 40 (104˚F), maka FIFA mengambil keputusan untuk memindahkan waktu penyelenggaraan piala dunia.

Keputusan ini telah menuai kritik dari negara-negara tradisional sepak bola, khususnya di wilayah Eropa yang musim pertandingan mereka berlangsung sepanjang bulan-bulan musim dingin. Semua orang, termasuk para penggemar, komentator-komentator sepak bola, dan klub tidak terima tradisipiala dunia diubah dan mengganggu jalannya liga sepak bola Eropa yang amat menguntungkan itu.

Sayangnya, kemarahan serupa tidak terjadi ketika berkenaan dengan perbaikan keadaan para buruh yang terlibat dalam pembangunan stadion untuk piala dunia di Qatar.  Seperti saat Olimpiade digelar, berbagai surat kabar dari negara lain selalu saja menemukan kekurangan dalam  pengelolaan acara olah raga besar. Sayangnya berbagai surat kabar tersebut seringkali bungkam bila berkaitan dengan masalah yang lebih besar, seperti eksploitasi pekerja migran miskin yang dipekerjakan untuk membangun stadion-stadion serta infrastruktur pendukung acara tersebut.

Dalam hal ini Qatar sebenarnya adalah salah satu pelanggar terbesar.  Data resmi yang dikeluarkan menyebut setidaknya 185 pekerja dari Nepal meninggal selama pembangunan stadion sepak bola di Qatar pada tahun 2013.  Angka ini kemungkinan besar akan bertambah karena semakin banyak kasus yang akan terkuak, dan angka ini hanya jumlah pekerja dari Nepal saja.  Populasi Qatar sendiri berjumlah 2 juta orang, namun hanya 250.000 jiwa saja yang merupakan warga negara Qatar. Sisanya adalah para pekerja migran yang terdiri dari ekspatriat kaya negeri barat yang bekerja di bank-bank dan sekolah-sekolah, pembantu rumah tangga dari Filipina, buruh dari Nepal, Bangladesh, dan Pakistan yang terlibat membangun stadion-stadion dan jalan-jalan. Penyebab kematian mereka antara lain adalah kecelakaan di jalan, jatuh, tertimpa benda berat, dan banyak sekali serangan jantung’ – entah hanya untuk menutupi alasan sesungguhnya atau karena jam kerja mereka yang panjang dan di bawah suhu yang luar biasa panas.

Meski adanya angka-angka yang mengerikan ini, kematian para pekerja tersebut justru dikesampingkan. Insiden-insiden ini hanya dilaporkan oleh beberapa surat kabar besar dan umumnya akan dilupakan saat piala dunia 2022 bergulir.  Nasionalisme dalam acara olahraga mengambil alih, dan kita akan menyemangati tim-tim kesayangan kita (kebanyakan dari Eropa dan Amerika Selatan) sambil mengesampingkan fakta bahwa pekerja miskin dari negara-negara yang kurang dikenal dalam olahraga ini dieksploitasi dan mati demi kesenangan kita.  Kita protes karena piala dunia diadakan saat musim dingin dan melupakan kesulitan yang dialami oleh pekerja-pekerja yang memungkinkan acara ini terlaksana.  Kita akan menyemangati atlet-atlet yang dibayar jutaan poundsterling, euro, dan dolar, sementara pekerja-pekerja yang dibayar sangat rendah tak mungkin diingat.

NRGLab menentang perlakuan tidak manusiawi terhadap para pekerja migran. Mereka yang miskin dan kurang beruntung di dunia ini juga punya hak yang sama untuk bisa menikmati kenyamanan, gaji yang adil, serta kondisi kerja yang baik. Inilah yang kami upayakan untuk tercapai, begitu pula dalam pengembangan teknologi energi baru yang kami lakukan. Kami merasa semua perusahaan perlu segera berupaya untuk mencapai tujuan yang sama.


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 18.02.14: http://annie65j.blogspot.com/2014/02/dying-for-sport-real-scandal-of-world.html

[ Mati demi Olah Raga, Skandal Piala Dunia , FIFA, piala dunia 2022, liga sepak bola Eropa, eksploitasi pekerja migran miskin ]

No comments:

Post a Comment