Follow me by Email

Sunday, May 4, 2014

Pendidikan, Perekonomian, atau Eksploitasi?

Untuk pertama kalinya universitas-universitas di Inggris mengalami penurunan jumlah pendaftaran mahasiswa baru seperti yang dilansir dalam surat kabar New York Times baru-baru ini. Hal ini bukan terjadi pada kalangan mahasiswa asal Inggris yang masih memanfaatkan pinjaman sebesar £9.000 untuk membayar uang kuliah tahunan, karena diberitahu bahwa untuk mendapatkan pekerjaan diperlukan gelar sarjana (dan kemudian mendapati kenyataan setelah lulus bahwa tidak ada pekerjaan yang tersedia bagi para sarjana baru ini). Namun, pada mahasiswa asing yang mulai kehilangan kepercayaan pada sistem pendidikan Inggris, khususnya program magister satu tahun yang mayoritas mahasiswanya adalah mahasiswa asing.



Universitas-universitas di Inggris mulai khawatir karena para mahasiswa asing membayar biaya kuliah yang lebih mahal dibandingkan dengan mahasiswa lokal, untuk bisa menikmati sistem pendidikan di Inggris. Hal tersebut tampak seperti permasalahan intinya, bukan hanya biaya kuliah yang memang sudah tinggi, melainkan juga meroket dengan cepat dalam kurun waktu lima tahun belakangan, ketika pemerintah menaikkan batas atas biaya yang dapat dikenakan oleh universitas. Meskipun keadaannya juga memburuk bagi mahasiswa lokal, patut diingat bahwa mahasiswa asing yang berasal dari negara-negara persemakmuran dan negara berkembang lain seperti Tiongkok telah lama menjadi sapi perah dari sistem perguruan tinggi di Inggris - membayar mahal bagi kelas-kelas yang tidak persiapkan dengan baik, kurang anggaran hanya demi kebanggaan belajar di Inggris. Mereka bahkan tidak memiliki kemudahan pinjaman biaya kuliah yang dinikmati oleh mahasiswa asal Inggris.

Kenaikan biaya pendidikan akhir-akhir ini bagi mahasiswa lokal dan asing merupakan bagian dari proyek neoliberal yang bertujuan melebur pendidikan ke dalam sistem ekonomi kapitalis yang sebelumnya berhasil ditolak sampai taraf tertentu. Pendidikan di Inggris (dan banyak negara lain) kini dipandang sebagai bisnis belaka daripada sarana pemenuhan kebutuhan intelektual. Fakultas-fakultas yang berfokus pada bidang-bidang yang dianggap bermanfaat secara ekonomi (seperti bisnis, kimia, fisika, dll.) mendapat dukungan anggaran, sementara bidang lain yang dianggap tidak berguna di dunia modern (seperti sastra Inggris, sejarah, filosofi, dll) mengalami pemotongan anggaran. Sementara itu, para mahasiswa dipaksa untuk melihat universitas sebagai 'investasi' yang tersedia bagi mereka yang memiliki uang atau yang bersedia terikat pada utang, yang tentu saja membuat harapan mereka berubah. Tak jarang para dosen bercerita tentang mahasiswa yang menuntut nilai sempurna untuk apa pun yang mereka kumpulkan karena mereka merasa 'telah membayar mahal'.

Yang luput dari catatan surat kabar New York Times adalah kemungkinan bahwa para mahasiswa asing kini semakin sadar bahwa universitas hanya memandang mereka penting dari sisi nilai ekonomi. Harapan, mimpi, dan masa depan para mahasiswa ini dianggap tidak penting. Mereka hanya dipandang sebagai angka-angka pada laporan keuangan, pihak universitas baru  memerhatikan saat para mahasiswa ini tak lagi muncul pada laporan keuangan. Harapannya, semoga turunnya jumlah mahasiswa ini bersumber dari kesadaran bahwa sistem pendidikan Inggris kini tak lebih dari sebuah bisnis yang mengeksploitasi mahasiswa (juga para profesor dan dosen yang digaji murah).

Semoga penurunan jumlah mahasiswa ini akan menjadi langkah pertama dari perubahan pada sistem pendidikan di universitas. Kita harus menganjurkan orang-orang untuk belajar karena kecintaan mereka pada ilmu bukan sekadar melihat segala sesuatu sebagai perhitungan langkah ekonomi atau menganjurkan mahasiswa untuk melihat dunia sebagai kompetisi tak berujung antara diri mereka dan orang ain. Orang-orang yang miskin di seluruh dunia perlu kita bantu untuk dapat mengenyam pendidikan di universitas dan meraih tujuan-tujuan mereka, alih-alih hanya sekadar menambah gemuk rekening milik universitas.


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 28.04.2014: http://annie65j.blogspot.com/2014/04/education-economics-or-exploitation.html

universitas-universitas di Inggris, penurunan jumlah pendaftaran mahasiswa baru, New York Times, program magister, mahasiswa asing

No comments:

Post a Comment