Wednesday, July 17, 2013

Teknologi Semakin Pintar, Mengapa Kota-Kotanya Tidak?

Ponsel pintar. Lampu dengan sensor gerakan. Mesin pencari  yang merekam riwayat pencarian kita dan otomatis-melengkapi pertanyaan kita sebelum kita menuliskannya secara lengkap. Ya – kita hidup di era di mana sebagian besar penduduk menuntut teknologi pintar untuk mengimbangi kekurangan mereka sendiri. Kita telah menyadari kesalahan dari cara kita sendiri. Umat manusia sendiri. Jadi mengapa kita tidak bisa menerapkan pemikiran yang sama untuk kota-kota kita yang kelebihan penduduk?


"Penerapannya  lebih lambat daripada yang kita inginkan," seperti diakui oleh Jim Sandelin , Senior Vice President  Schneider Electric, perusahaan penyedia energi asal Perancis. "Teknologinya sudah ada. Platform dan analisis, yang memberitahu Anda bagaimana bangunan dan peralatan bekerja, baru benar-benar datang dalam tiga atau empat tahun belakangan ini, dan [semakin] membaik saja."

Anda bisa masuk ke McDonald dan memesan makanan melalui sebuah menu layar sentuh interaktif. Asrama perguruan tinggi yang diatur dengan sistem pemanasan  dan pendingin yang hemat energi membantu mengurangi biaya dan konsumsi energi. Bahkan iPad sudah kelihatan seperti langsung dari Star Trek.

Jadi, setelah ini apa?

Pusat-pusat pengolahan data baru saat ini memungkinkan gedung-gedung perkantoran, jalan raya, stadion dan seluruh blok di kota dijalankan melalui jaringan tunggal dan terintegrasi yang menganalisis distribusi tenaga listrik. Namun,  saat pemerintah sudah mulai berinvestasi dalam transisi menuju “kota pintar,” pemilik bangunan swasta tetap menolak untuk membayar tagihan.

"Banyak investor yang tidak mau tahu [dengan energi hijau]," kata John Dawson, Direktur Regional Teknik Lincoln Properti, sebuah perusahaan manajemen di Dallas. "Mereka tidak ingin menghabiskan uang. Mereka mencari listrik yang sudah ada saja, jadi mengapa mereka harus membayar untuk itu? "

Tagihan listrik tahunan kota Dallas reguler biasanya bernilai puluhan juta dolar. Sejak tahun 2003, Balai Kota, Dallas Museum of Art, tempat parkir, dan puluhan bangunan perusahaan telah direnovasi dengan termostat otomatis, lampu dengan sensor gerak, dan insulasi  telah diperbaiki. Pemerintah mereka memprediksi penghematan energi selama dua tahun ke depan sekitar $ 30 juta.

Meskipun kota-kota di Amerika agak enggan untuk mendukung pembaruan yang hemat energi, di Eropa hal ini secara undang-undang justru dibutuhkan banyak negara. Menurut Steven Moore, seorang profesor perencanaan arsitektur di University of Texas, "Kebanyakan orang menolak perubahan karena mereka tidak dapat segera melihat manfaatnya. [Tapi] perubahan akan datang, dan akan ada peningkatan insentif agar lembaga dan pemerintah mau menerapkannya."

Namun membuat bangunan hemat energi jauh dari sekadar kesepakatan "sekali dan selesai". Ketika makin berumur, bangunan-bangunan mulai boros energi. Itulah sebabnya bangunan-bangunan tersebut membutuhkan perawatan rutin. Kegiatan operasionannya dipelajari. Gedung-gedung harus terus beradaptasi agar bisa tetap bertahan.

Sekarang pertanyaannya adalah: akan umat manusia beradaptasi dengan pemanasan global dan bertahan? Atau akankah kita gagal untuk belajar dari kesalahan kita, dan tergoreng bersama dengan planet ini?

Diterjemahkan dari Bahasa Inggris, artikel asli di publikasikan tanggal di 1 Juli, http://annie65j.blogspot.sg/2013/07/technology-is-getting-smarter-so-why.html

[ proyek nrglab, pemanasan global, nrglab, nrglab pte ltd, nrglab singapore, nrglab сингапур, annie j, ana shell, University of Texas, Steven Moore, John Dawson, Star Trek ]

No comments:

Post a Comment